Anak Punk Asal Kalteng Dan Kabupaten Melawi Resahkan Warga

Anak Punk Asal Kalteng Dan Melawi Resahkan Warga 

 

Kalbar, RBN – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Kabupaten  Sintang Kalimantan Barat, amankan Belasan anak Punk yang tinggal di bangunan bekas pasar di Jalan Lintas Melawi, Kelurahan Ladang, Kamis (28/11/2019) pagi.

 

Sebanyak 12 anak punk diamankan lantaran keberadaannya dinilai meresahkan masyarakat.

 

Mereka tinggal dan menempati bangunan bekas Pasar Burung.

Seluruh Anak punk yang terjaring oleh Satpol PP bersama Dissos Kabupaten Sintang langsung digiring ke aula Satpol PP.

 

Selanjutnya, mereka didata, accessories punknya seperti anting dan sebagainya juga diamankan.

 

Dari 12 anak punk yang terjaring, ada dua orang perempuan.

Sebagian besar dari mereka berasal dari Kabupaten Melawi.

Namun ada pula dari Kalimantan Tengah (Kalteng).

 

Sebaran dan pengaruh gerombolan pemuda punk di Kota Pontianak sudah dalam tahap mengkhawatirkan. Jaringannya ini malah sudah masuk ke berbagai kecamatan.

Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Pontianak, Edy Haryanto menyebutkan, jika dulu anak punk hanya berkeliaran di kota, saat ini jaringannya sudah menyebar di beberapa tempat di antaranya perempatan lampu merah Pontianak Timur dan Utara.

 

“Mereka melakukan aktivitas seperti mengamen dan meminta-minta di simpang lampu merah maupun warung-warung yang ada,” kata Edy Haryanto, Senin (14/1/2019).

 

Belasan anak Punk diamankan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) bangunan bekas pasar di jalan Lintas Melawi, Kelurahan Ladang, Sintang, Kamis (28/11/2019) pagi. 

 

 

Menurut dia perlu adanya pembedaan atau klasifikasi anak jalanan tersebut, karena meski satu paham kadang yang baru hanya ikut-ikutan karena terpengaruh.

 

“Kita ingin klasifikasi dulu. Yang asal sini kebanyakan umuran anak-anak SMP, kumpulan kecil. Mereka inilah ikut-ikutan dan biasa ‘ngelem’,” kata Edy Haryanto.

 

Kumpulan yang kecil, lanjut Edi hanya di tempat tinggalnya, misalnya anak-anak SMP. Sedangkan anak punk yang datang ini sebaran asalnya ada yang dari Bandung, Singkawang, Ketapang, dan daerah lainnya.

 

“Anak-anak punk yang datang dari berbagai daerah menjadikan Kota Pontianak sebagai lokasi titik kumpul, mereka inilah mempengaruhi anak-anak Pontianak,” terang Edi.

 

Mereka membuat kelompok dan hidupnya hanya tinggal di rumah-rumah kosong atau tempat temannya yang orangtuanya tidak harmonis. Inilah fakta yang ditemukan Dinsos Pontianak, anak punk dan anak jalanan ini kalau mereka kumpul dikatakan Edi, lalu memakai narkoba atau ngelem.

 

“Baru-baru ini yang kita amankan, anak punk yang mengamen. Setelah didata ternyata hasil mengamennya ini untuk dibelikan narkoba. Jangankan anak punk, pengemis yang kita amankan juga memakai narkoba. Jadi uang yang didapatkan dari hasil ngemis dan ngamen itu untuk beli narkoba,” ujarnya.

 

Menurutnya, Dinsos Kota Pontianak berusaha mencegah anak punk masuk di Kota Pontianak bahkan yang masuk banyak yang diamankan dan dikembalikan ke daerah asalnya.

 

Selain itu, Dinsos sudah membentuk Satuan Tugas (Satgas) yang ditempatkan di persimpangan khususnya yang rawan dijadikan lokasi anak punk ngamen. Termasuk di lokasi GOR Sultan Syarif Abdurrahman.

 

“Setiap lokasi kita tempatkan dua orang Satgas kita ambil dari masyarakat sekitarnya. Satgas ini dibayar Rp75 ribu sehari,” jelasnya.

 

Dikatakannya satgas dan petugas memang masih sangat terbatas sehingga para anak punk masih bisa mencuri-curi kesempatan untuk mengamen di lampu merah.

 

“Anak punk ini kalau sudah ngumpul, rata-rata melalukkan kejahatan. Ini kita dapatkan karena anak-anak berhadapan dengan hukum (ABH) rata-rata adalah anak punk. Mencuri, jambret dan efek lainnya. Masuklah dia dalam hukum, karena dibawah umur lalu dimasukan dalam PLAT (Pusat Latihan Anak Terpadu),” ujarnya.

 

Saat di PLAT tentunya diberikan pembinaan baik skil maupun moralnya. Edy berharap setelau keluar dari PLAT mereka tidak ngumpul dengan anak punk lagi.

“Tapi masalahnya mereka ini berasal dari keluarga yang tidak harmonis, sehingga sulit terkontrol,” terangnya.

 

Sementara itu, anggota DPRD Kota Pontianak, Herman Hofi Munawar mengatakan masalah anak punk ini tidak akan pernah selesai apabila penanganannya masih seperti saat ini.
Ia menilai sebetulnya anak punk atau anak jalanan adalah persoalan sosial yang ada di tengah masyarakat. Dengan banyaknya anak punk di Kota Pontianak menunjukan kondisi sosial sudah semakin rusak.

 

“Itu satu indikator yang dapat di lihat bahwa kondisi sosial kita semakin tidak jelas. Nah penanganannya sekarang, hanya berada dihilirnya saja. Artinya ada anak punk ditangkap, diamankan dan setelah ditangkap dan pembinaan tidak jelas seperti apa lalu dilepaskan kembali. Polanya seperti itu terus,” tukas Herman mengkritik penanganan saat ini.(*)

SHARED

Komentar